Kepergian Lia Sisakan Kenangan Untuk Keluarga

  • Whatsapp
Lia semasa hidupnya dan Surat diduga peninggalan Lia untuk mamanya ( Dok/Ist )

Nagan Raya | republikaceh.com – Manusia berencana, nasib berkata lain. Seperti yang terjadi pada Lia, 25, seorang mahasiswi di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh,yang ditemukan tewas tergantung di kamar kostnya, beberapa hari lalu.

Wanita itu adalah calon penggantin yang rencananya akan menikah pada Jumat (23/8/2019), di desanya di Kuta Trieng Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya, dengan seorang pengacara, warga Aceh Besar yang telah bersatus sebagai duda.

BACA JUGA

Orang tua Lia sebelumnya telah mempersiapkan semua kebutuhan untuk pernikahan anaknya itu. Mulai dari baju pernikahan dan kebutuhan kenduri untuk syukuran di hari pernikahan.

Isak tangis Hanidar, ibu kandung korban pecah di rumahnya, meskipun orang tuanya sudah pasrah atas kehilangan anak semata wayangnya, wajah Hanidar larut dalam kesedihan. Air matanya terus mengalir meratapi kepergian putri tercintanya.

Sang ibu terus menangis setiap dia berbicara tentang putrinya, Lia Yulrifa, yang sudah mendahului pergi. Lia Yulrifa merupakan putri pasangan Hanidar dan Resmi Yanto. Saat ini Resmi Yanto tinggal di Kalimantan, sudah lama berpisah (bercerai) dengan Hanidar.

“Sejak kemarin istri saya, Hanidar terus menangis saat mengetahui anaknya telah meninggal, namun kita pasrah atas musibah ini karena sudah nasib,” ungkap T.Jamali, ayah tiri Lia Yulrifa di Kuta Trieng, Sabtu (24/8/2019) seperti di kutip dari waspadaaceh.com

Jamali menceritakan , sejauh ini Lia tidak ada masalah dengan keluarganya. Saat pertunangan pun, dia sendiri yang menentukan maharnya dan dia telah menentukan jodohnya sendiri dengan pria tersebut.

Seharusnya Sabtu hari ini, Lia pulang dalam kondisi bahagia untuk menikah. Namun takdir berkata lain, dia pulang ke rumah dengan jasadnya saja. Sehingga rencana pernikahan pun tinggal kenangan.

Anak kami Lia sangat manja dengan ibunya, dan setiap masalah pasti disampaikan kepada ibunya. Anak kami sangat baik dan santun selama ini, sehingga tidak menyangka bisa terjadi peristiwa tragis tersebut,” ungkap T Jamali.

Menyangkut cara anaknya tewas, Jamali tidak mau berkomentar. Dia menegaskan, pihak keluarga menyerahkan persoalan tersebut ke pihak kepolisian.

Sementara pihak keluarganya yang lain menilai, meninggalnya Lia ada kejanggalan. Mulai dari selendang merah dan surat yang ditinggalkannya. Menurut pihak keluarga, Lia dan teman-temannya di kontrakan tidak ada yang memiliki selendang tersebut.

Sedangkan tulisan di surat yang ditemukan itu diduga bukan tulisan Lia Yulrifa, tetapi tulisan orang lain. Sementara dari isi surat tersebut, Lia tidak pernah memanggil ibunya mama, tetapi “mamak,” jelas salah seorang keluarga.

Selain itu, untuk ayah tirinya tidak pernah memanggil ayah tetapi dia memanggil papa. Selain kondisi jenazah yang mengeluarkan banyak darah dari mulutnya, sesampai di rumahnya di Kuta Trieng, juga ditemukan ada lemban di wajah dan bahunya

Kepala KUA Darul Makmur, Dedi Supriadi membeberkan, menyangkut semua adminitrasi Lia Yulrifa yang akan menikah, telah selesai diurus dan tinggal melangsungkan pernikahan saja.

Saat ditanya tentang status tunangan Lia, Kepala KUA menjelaskan, pria tersebut telah menduda. Hal ini dibuktikan dengan surat kuning dari pengadilan, bahwa dia telah bercerai dengan istrinya.

“Calon suami Lia sudah duda yang dibuktikan dengan adanya surat bukti cerai dari pengadilan,” jelasnya.

Namun, sebelum semua itu terwujud, Lia sudah lebih dulu pergi selamanya. Meninggalkan kenangan dan misteri yang membalut kepergiannya.

Kapolres Nagan Raya AKBP Giyarto melalui Kasat Reskrim AKP Boby Putra Ramadhan Sebayang menjelaskan, kasus ini tidak ada kaitan dengan Polres Nagan Raya karena TKP nya di Banda Aceh. Kasus Lia sedang ditangani oleh Sat Reskrim Polresta Banda Aceh, jelas AKP Boby. (Red) 

Sebelumnya artikel ini sudah tayang di waspadaaceh.com, Minggu (25/8) dengan judul “Lia Sudah Tiada, Orang Tuanya Pasrah Kehilangan Anak Kesayangan”

REKOMENDASI