Warga Tolak PT. Boswa Megalopolis beroperasi Kembali di Curek

  • Whatsapp
sejumlah warga Desa Curek membentang spanduk tanda penolakan kehadiran PT. Boswa Megalopolis , Minggu (1/9/) (Dok/Ist)

Calang | republikaceh.com  -Sejumlah warga Desa Curek Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, Minggu (1/9/2019) melakukan aksi penolakan kehadiran PT. Boswa Megalopolis yang akan beroperasi kembali di desa tersebut.

“aksi yang dilakukan warga (Minggu, 1/9/2019) dengan membentangkan spanduk tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap kehadiran PT. Boswa Megalopolis yang ingin mengoperasikan lahan hutan dalam wilayah adat di Desa Curek, tutur Bardin, Tokoh masyarakat setempat kepada republikaceh.com, senin (2/9) di Calang.

BACA JUGA

Bardin juga menjelasoan jika pihak PT tersebut melanjutkan mengembangkan lahan maka akan menimbulkan dampak pencemaran lingkungan dan imbasnya akan di tanggung oleh warga desa Curek.

“kami sebagai masyarakat menolak kehadiran PT boswa Megalopoli di desa Curek untuk menyelamatkan kelestarian lingkungan yang ada di daerah kami,” ungkapnya. 

Sementara, Hendra, (30) warga desa setempat juga menyampaikan jika kehadiran perkebunan kelapa sawit akan menjadi ancaman bagi masyarakat yang berada disekitar HGU milik perusahaan tersebut.

“Kasus ini pastiya akan memicu konflik lahan masyarakat dengan perusahaan seperti yang pernah terjadi antara pihak PT. Boswa Megalopolis dengan masyarakat curek juga pada beberapa tahun yang lalu,” kata Hendra.

Dirinya melanjutkan jika sidiri tidak mau hal yang pernah terjadi sebelumnya terulang kembali kedepan dan masyarakat bawah akan menjadi korban dan juga pembukaan lahan dapat menimbulkan dampak yang serius bagi pencemaran lingkungan.

Jika pun nekat mengunakan lahan tersebut maka juga harus bersedia memenuhi semua tuntutan masyarakat seperti yang sudah di sampaikan sebelumnya kepada pihak PT.

“Kami juga meminta kepada pihak Perusahaan dan Pemerintah baik ditingkat kecamatan maupun di kabupaten agar terbuka dengan masyarakat Curek. Jangan sampai dikemudian hari akan menimbulkan konflik baru,” harapnya

Hendra menambahkan jika warga tidak ingin hutan adat di wilayah Gampong Curek habis dikelola oleh perusahaan sedangkan masyarakat hidup melarat di atas tanahnya sendiri.

“Kita juga dalam waktu dekat akan mengirimkan Penolakan secara resmi kepada pemerintah kabupaten Aceh Jaya untuk mnolakan kehadiran PT Boswa di desa Curek” Tutup Hendra.

Sementara, Ribut Suprajoyo selaku General Menager pada PT Boswa Megalopolis saat dikonfirmasi kepada republikaceh.com menyampaikan, akan siap menampung sejumlah tuntutan masyarakat Desa Curek, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, terkait pengembangan kembali lahan kelapa sawit di desa mereka.

“Kita siap menampung tuntutan masyarakat Desa Curek apalagi itu memang sudah dituangkan dalam perjanjian antara pihak PT dan aparatur desa yang diketahui oleh camat tertanda pada 31 Juli 2019 di Kantor Camat Krung Sabee,” tutur,

Dalam perjanjian sebelumnya, lanju Ribut, ada empat poin penting yang dituntut oleh masyarakat Desa Curek dan satu poin lainnya tidak masuk dalam perjanjian.

“ada empat tuntutan masuk dalam perjanjian kita namun terkait PT Boswa wajib menyediakan sumber air bersih bagi warga masyarakat Desa Curek dalam setiap kepala keluarga itu di luar penjanjian, yang ada kita akan menjaga sumber air bersih yang digunakan masyarakat termasuk sungai akan dibaver 50 meter – 50 meter,” Papar Ribut.

Ribut kembali menyampaikam jika untuk sertifikat, PT. Boswa bukan mengeluarkan 250 melainkan sebanyak 173 sertefikat karena itu sesuai dengan jumlah kepala keluarga yang ada di desa tersebut.

“lahan plasma yang dikeluarkan hanya 384 hektar, sedangkan lahan yang diminta oleh masyarakat bila di kali dua mencapai 346 hektare dan ini melebihi dari kesepakatan awal,”beber Ribut

Ianya menambahkan, jika pihaknya tidak akan meninggalkan masyarakat dalam pengelolaan lahan sawit tersebut.
pihaknya akan komit terhadap perjanjian yang sudah diputuskan dan kesalahan lama itu menjadi pengalaman dan pihaknya tidak mengacu pada kesalaham sebelumnya

“Harapan kita bisa hidup berdampingan, kami dari pihak investor bisa menjalankan usahanya dan masyarakat juga mendapatkan manfaatnya, kita juga tidak rekrut orang dari luar namun semua dari lokal,” cetusnya. (NS/Red)

REKOMENDASI