Desa Wisata Nilam Akan Lahir di Aceh Jaya

  • Whatsapp
Ketua Desa Wisata Nilam Aceh, Dyah Erti Idawati (tengah) didampingi Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Aceh Jaya, T. Mufizal (nomor 2 dari samping kanan) saat menujungi lokasi pembibitan mengunjungi lokasi Percontohan pembibitan Nilam Aceh (Pogostemon Cablin) di Desa Rantoe Sabon Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, Minggu (15/9) (Dok/Zahlur Akbar)

Calang | republikaceh.com – Pada Tahun 1998, Minyak nilam Aceh Jaya sempat menjadi jawara dengan kualitas terbaik dipasarkan hingga ke pasar dunia, namun tidak stabilnya harga di Aceh Jaya pada masa itu masih sebagai Aceh Barat, membuat para petani beralih membudidayakan komuditi tanaman lainnya.

Di lihat dari letak Geografis, Aceh Jaya menjadi salah salah satu daerah yang sangat cocok untuk pengembangan budidaya tanaman nilam di Aceh saat ini. Luas areal tanam di kabupaten Aceh Jaya saat ini ada sekitar 572 hektar yang terbagi di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Jaya, Sampoiniet, Setia bakti, Krueng sabee, Panga dan Teunom.

BACA JUGA

Nilam Aceh Jaya kembali berpotensi untuk dikembangkan karena pasar parfum sangat tergantung pada Nilam Indonesia, khususnya Nilam Aceh Jaya, apalagi telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis. Agar Nilam Aceh kembali terdongkrak dan bernilai tambah, maka ARC didukung Dana CSR BI plus pihak Paris melakukan inovasi dan pendampingan terhadap petani nilam di lokasi Ranto Sabon.

Ketua Desa Wisata Nilam Aceh, Dyah Erti Idawati memberikan sambutan saat menujungi lokasi pembibitan mengunjungi lokasi Percontohan pembibitan Nilam Aceh (Pogostemon Cablin) di Desa Rantoe Sabon Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, Minggu (15/9) (Dok/Zahlur Akbar)

Minggu ( 15/9 ), Sebuah Rombongan yang dipimpin oleh Dyah Erti Idawati dipandu Syaifullah Muhammad dari Atsiri Research Center (ARC) bertolak dari Banda Aceh menuju Desa Rantoe Sabon Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya untuk mengunjungi lokasi Percontohan pembibitan Nilam Aceh (Pogostemon Cablin) di kelola oleh warga desa setempat

Lahan percontohan persemaian bibit nilam Seluas 3 Hektar tersebut akan menjadi cikal bakal dalam mewujudkan Pembangunan Desa Wisata Nilam di Aceh yang di gagas Pusat Riset Atsiri Unsyiah. Lahan di kelola oleh 6 orang warga desa tersebut juga sebagai tindak lanjut dari kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dengan Bank Indonesia yang di lakukan penandatangan nota kesepahaman pada tanggal Selasa (8/5/2019) lalu di Aula Sekdakab setempat.

“melengkapi sisi pemasaran, inovasi desa wisatapun diterapkan dengan menghadirkan Desa Wisata Nilam Ranto Sabon. Melalui pendekatan wisata, bukan sekedar produk turunan dari Nilam yang dijual, melainkan di dalamnya ada cerita, nilai, keyakinan, pengetahuan dan lainnya, seperti Nilam untuk menjaga kemudaan,” Kata Syaifullah Muhammad, Ketua Atsiri Research Center (ARC) Unsyiah saat menyampaikan sambutan dalam kujungan tersebut.

Pendekatan yang mendapat dukungan warga melalui Dana Desa ini memungkinkan tumbuh pula pengembangan spot wisata yang ada di Sampoiniet. Salah satu yang ikut dikunjungi hari ini adalah spot wisata anti mainstream Concervation Respon Unit (CRU) dan Pasie Saka.

Ketua Desa Wisata Nilam, Dyah Erti Idawati menyambut gembira antusias warga Ranto Sabon yang ingin bangkit bersama dengan Nilam. Dirinya menyakini bahwa Pemerintah Aceh akan mendukung setiap upaya yang dapat berujung pada kemampuan warga keluar dari kemiskinan.

“jika sudah kembali bangkit agar tidak melupakan program kesehatan dan keagamaan. Untuk apa duit banyak jika uang yang ada habis untuk biaya berobat,” tuturnya. (Zahlur Akbar/Red)

REKOMENDASI