Penutupan ACF Dinilai Ciderai Kampus Syariat di Aceh

  • Whatsapp
Sekretaris Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) UIN Ar-Raniry, Nusrat Mahfudh, Minggu (13/10) (Foto/Ist)

Banda Aceh | republikaceh.com – Sekretaris Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) UIN Ar-Raniry, Nusrat Mahfudh, menganggap acara Penutupan Ar-Raniry Creative Fair III (ACF) telah menciderai kampus syariat islam UIN Ar-Raniry.

Menurutnya, dalam acara penutupan ACF terdapat banyak hal yang tak seharusnya terjadi.

BACA JUGA

“seperti acara hingga larut malam, Kurang kondusifnya pembatas areal perempuan dan laki-laki,”ungkapnya melalui rilis yang di terima media ini, Minggu (13/10)

Ianya menerangkan jika ceremonial acara penutupan tersebut awalnya berjalan lancar dan kondusif serta terjaga. Rektor UIN Ar-Raniry turut hadir dan menjadi orang yang menutup kegiatan akbar tahunan kampus biru UIN Ar-raniry tersebut. Acara formal selesai sekitar pukul 23.00 WIB dan kemudian dilanjutkan dengan acara seremonial yang mulai memicu kurang kondusifnya acara.

“membludaknya penonton pada acara tersebut juga menjadi salah satu faktornya,” pungkasnya.

Nusrat juga menjelaskan bahwasannya setiap event organizer seharusnya mempertimbangkan kegiatan yang dibuat sesuai norma-norma dan peraturan yang berlaku, terutama di Aceh yang memiliki kekhususan syariat Islam maka setiap kegiatan tentunya harus berlandaskan peraturan syariat yang telah ditetapkan baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kota.

“Kampus UIN Ar-raniry merupakan kampus keagaman yang berlandaskan Syariat Islam dan kampus UIN Ar-raniry sudah jelas berada di Aceh yang memiliki kekhususan syariat,” imbuhnya.

Jadi, lanjut Nusrat, hal-hal berupa kegiatan seharusnya berdasar Islam dan seharusnya dapat menjadi panutan baik kampus di Aceh sendiri maupun dalam lingkup nasional,

Selain itu, tambahnya, acara berbentuk euphoria tersebut sebaiknya mendapat pengawasan ekstra dari panitia. Bercampurnya antara wanita dan laki-laki yang menimbulkan citra negative kampus syariat. Pada malam itu memang bukan murni kesalahan panitia namun juga para oknum pelaku yang dengan sengaja berusaha keluar dari area yang ditentukan.

“saya juga sebagai mahasiswa UIN Ar- Ranniry berharap dan mengajak agar penyelenggaraan acara-acara akbar kedepannya lebih memandang aspek keagamaan bukan hanya aspek kreativitas semata, karena aspek keagamaan merupakan aspek utama dalam dalam berkehidupan dan sangat penting dijaga sebagai kampus yang berlatar belakang syariat”

“Bukan menyelenggarakan acara yang hanya seremonial dan kurang menekankan syariat sehingga kegiatan berlangsung sampai waktu larut malam dan akhirnya menciderai nama besar kampus UIN Ar-Raniry sendiri,” tegas Nusrat. (Ril/Red)

REKOMENDASI