Cek Mad: Aceh Utara Harus Keluar Dari Kemiskinan

  • Whatsapp
Bupati Aceh Utara, H. Muhammad Thaib alias Cek Mad, (Foto/Kompas.com)

Lhoksukon | republikaceh.com – Kabupaten Aceh Utara adalah salah satu kabupaten terluas di Provinsi Aceh, terdiri dari 27 Kecamatan dan 852 Desa dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 500.000 jiwa.

Membangun Aceh Utara bukan perkara gampang, bukan hanya masalah luasnya daerah, namun masih banyak berbagai permasalah lain yang juga menjadi kendala.

BACA JUGA

Meskipun demikian, pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus melakukan berbagai upaya, termasuk berupaya mengembangkan industri kreatif sebagai salah satu solusi mengatasi kemiskinan.

Terutama industri kreatif yang bercorak kerajinan yang selama ini telah tumbuh dan digeluti oleh sebagian masyarakat pengrajin di daerah ini.

Hal ini juga diharapkan dapat menjadi jalan keluar dari minimnya lapangan kerja, sehingga nantinya juga dapat meminimalisir angka pengangguran.

Demikian antara lain diungkapkan Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib didampingi oleh Kabag Humas, Andree Prayuda, SSTP, MAP, Minggu, (03/11) didepan awak media.

Menurut Bupati H Muhammad Thaib yang akrab di sapa Cek Mad, kemiskinan merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh multi faktor

Pihaknya juga tidak memungkiri bahwa hingga saat ini masih banyak masyarakat Aceh Utara yang hidup di bawah garis kemiskinan, juga yang tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya mencari solusi atau jalan keluar untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat.

Salah satu misalnya, melalui Perbup tentang penggunaan dana desa yang mewajibkan setiap gampong untuk membangun dua unit rumah warga miskin setiap tahun.

“Alhamdulillah, saat ini sudah hampir 2000-an unit rumah warga miskin yang dibangun di gampong-gampong sejak Perbup itu dikeluarkan,” kata Cek Mad.

Solusi lain, lanjutnya, yang sedang digarap saat ini adalah mengembangkan industri kreatif daerah yang merupakan jenis usaha kecil menengah (UKM). Bahkan sejak dua tahun lalu Pemkab Aceh Utara telah bekerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif RI (sekarang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), di mana telah dilakukan pemetaan terhadap tantangan dan peluang terhadap industri kreatif di daerah ini.

Industri kreatif ini sangat besar potensinya di Aceh Utara dan berpeluang untuk merebut pasar nasional bahkan hingga manca negara. “Kita memiliki banyak sekali ragam dan corak industri kreatif yang berpotensi untuk dikembangkan, baik industri kerajinan maupun ragam seni dan adat budaya. Ini yang kita harapkan menjadi salah satu solusi untuk mengangkat ekonomi masyarakat dan mengatasi kemiskinan,” kata Cek Mad.

Pada kesempatan itu, Cek Mad juga menyampaikan, jika ada yang menyebut rakyat Aceh Utara malas. “Penyebab kemiskinan itu adalah multi faktor. Salah satunya adalah karena malas bekerja. Tapi kalau tidak ada lapangan kerja, apa yang mau dikerjakan. Sebab itulah kita mau kembangkan UKM industri kreatif bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI sehingga bisa menjadi lapangan kerja bagi rakyat Aceh Utara, terutama kelompok milenial,” jelas Cek Mad

Industri kreatif, kata Cek Mad lagi, bisa dimulai dengan modal kecil, asalkan ada keseriusan dan kemauan. Misalnya yang dipamerkan di Pameran Piyoh-Piyoh saat ini merupakan barang-barang produk ekonomi kreatif yang diproduksi oleh perajin Aceh Utara.

Mereka menggeluti pekerjaan itu dengan serius, makanya berhasil dan mendatangkan profit sebagai mata pencaharian yang menguntungkan.

“Kemiskinan bukan disebabkan karena masyarakat malas. Namun karena minimnya lapangan kerja formal. Yang ditafsir pekerjaan itu kan kantoran, PNS, karyawan swasta dan lain sebagainya,” jelasnya.

“Perubahan pola pikir kita dorong agar kita fokus ke sektor usaha kecil dan menengah, namun pertumbuhan uangnya besar di sana. Ini kebijakan jangka panjang kita, sehingga bisa mengentaskan kemiskinan,” tutup Cek Mad. (Zaman Huri)

REKOMENDASI