Gelar Seminar Nasional dan FGD, Mahasiswa Unsam Lahirkan Rekomendasi

  • Whatsapp
Delegasi dari bagai Perguruan Tinggi di wilayah Sumatera usai kegiata Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD), Rabu, (13/11) (Foto/Ist)

Langsa  | republikaceh.com – Himpunan Mahasiswa Agribisnis Universitas Samudera mengelar Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD) dihadiri dari delegasi berbagai Perguruan Tinggi di wilayah sumatera, baik anggota tetap maupun anggota sementara DPW 1 POPMASEPI, Rabu, (13/11).

Kegiatan ini merupakan sebuah bentuk implementasi peran nyata mahasiswa yang memiliki sebuah tujuan untuk memberikan solusi melalui pandangan dalam menjalankan fungsinya sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial yang dituntut peka terhadap permasalahan yang beredar khususnya di Aceh.

BACA JUGA

Pada kegiatan tersebut turut hadir Muhammad Zulfri S.T.,M.M.,M.T Selaku Direktur Utama PT. Pelabuhan Kuala Langsa (PEKOLA) yang bergerak di bidang transportasi ekspor impor di kota Langsa.

Pada kesempatan tersebut, bertidak sebagai pemateri Seminar, Zulfri menyampaikan bahwa pada umumnya daerah Langsa masih sulit untuk berkembang dalam usaha peningkatan pendapatan daerahndengan potensi-potensi sumber daya lokal.

Sebagai solusi, Zulfri menawarka jika mahasiswa kedepannya harus berperan aktif melalui bentuk usaha kewirausahaan, tentunya dengan harapan, mampu mengatasi permasalahan yang beredar.

Disisi lain, Dr. Iswahyudi S.P.,M.Si yang juga bertindak sebagai pemateri mengangkat dan menyampaikan tentang bagaimana Mangrove sebagai potensi lokal Langsa dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.

“Di kota Langsa justru masih banyak di belit berbagai permasalahan yang menghambat pengembangan dan peningkatan kinerja Mangrove, seperti pembibitan, konversi lahan, pembalakan liar, termasuk juga pencemaran di wilayah mangrove,” tutur kepala program studi Agroekoteknologi di Universitas Samudera itu.

Sangat disayangkan, lanjutnya, dimana semenstinya Mangrove seharusnya mampu menjadi andalan pendapatan daerah, khususnya petani lokal di daerah Langsa yang saat ini masih belum masuk dalam kategori kehidupan yang layak berdasarkan kriteria yang tercantum dalam PERGUB ACEH No.98/2018 Penetapan Upah Minimum Provinsi Aceh tahun 2018.

Delegasi dari bagai Perguruan Tinggi di wilayah Sumatera sedang mengikuti kegiata Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD), Rabu, (13/11) (Foto/Ist)

Sementara itu, Aziz Maulana, Ketua Panitia menyampaikan jika gabungan delegasi yang hadir pada kesempatan ini juga mengadakan suatu bentuk kajian tentang permasalahan yang sama sebagai tindak lanjut dari kegiatan Seminar Nasional tersebut dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD).

Dalam bentuk kajian ini, lanjutnya, disambut dengan respon yang responsif dari peserta FGD, dimana beredar berbagai pendapat dari sudut pandang potensi daerah lokal masing-masing delegasi yang mengerucutkan hasil diskusi berupa solusi dan harapan yang bersifat rekomendasi.

“Solusi yang disampaikan berupa adanya bentuk kontrol dari segala pihak yang terkait yang bertujuan menumbuhkan pemahaman tentang arti pentingnya Mangrove di daerah Langsa,” ungkap Aziz.

Kemudian, lanjutnya, kajian ini menghasilkan sebuah bentuk rekomendasi pengadaan daerah rumah Mangrove sebagai bentuk Eco-Wisata dan Kawasan Agribisnis yang mencakup berbagai kegiatan di dalamnya.

“Seperti Pra Produksi, Produksi dan Pasca Produksi yang bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal,” jelasnya.

Nanti, tambahnya, Output dari kegiatan kajian ini akan dijadikan kedalam bentuk artikel imliah dan akan dilampirkan pada permohonan untuk melakukan bentuk kajian serupa dangan menghadirkan instansi terkait yang relevan seperti pihak DPR Aceh, Pemerintah Kota, Pelaku bisnis terkait, Akademisi dan masyarakat lokal. 

“Target kedepan, terealisasinya kajian tersebut dalam waktu dekat guna tersampaikannya aspirasi dengan harapannya dapat menjadi solusi bersama bagi pemasalahan terkait topik yang kita usung saat ini,” tutup Aziz (Jufri)

REKOMENDASI