“Sang” Penyelamat Penyu, Bermula dari Muara Hingga Forum Nasional

  • Whatsapp
Murniadi alias Dedi Penyu saat beristirahan di Posko pemantauan Lembaga konservasi penyu Aroen Meubanja, Minggu (24/11/2019) (Foto/Zahlur Akbar)

Calang| republikaceh.com – Murniadi, Pria dekil yang membaktikan hidupnya menjaga satwa laut tergolong langka keberadaannya saat ini, yaitu Penyu.

Matahari mulai condong ke arah barat, angin dari arah laut terus menghantam dedaunan cemara dan ditambah deru ombak membuat diskusi di sore itu tentang sebuah kisah hidup kian lengkap.

“hidup itu pilihan dan ini jalan hidup yang saya pilih,” sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh pria yang akrab disapa Dedi Penyu, kini berusia 49 tahun saat membuka diskusi, bersama wartawan republikaceh.net, Minggu (24/11/2019) Sore.

Dedi Penyu (Kiri) saat menerima penghargaan penjaga Penyu di Padang, Sumatra Barat (Foto/Dokumen Republikaceh)

Berlahan kata tertuang menjadi kalimat ringkas di pandu dengan sesekali tarikan nafas panjang, Dedi Penyu mengupas sebuah cerita silam nya tentang mengokohkan komitmen sebagai penyelamat penyu.

Mulanya, Ungkap Dedi, beranjak dari terjepit ekonomi, menjadi faktor keseringan mejelajahi laut dikawasan Panga. Mengais rezeki dari satu muara ke muara lainnya, berburu ikan dan hasil tangkapan dijual demi mendapatkan recehan rupiah dalam bertahan hidup.

Dedi Penyu usai memberikan Bimbingan seputaran penyu kepada Mahasiswa yang tergabung dalam GenBi (Generasi Baru Indonesia) Provinsi Aceh, Komisariat Universitas Teuku Umar Melaboh, Aceh Barat, (Foto/Dokumen Republikaceh)

Beranjak dari rutinitas itu, Dedi Penyu kian hari kian bertemu serta melihat mahkluk – mahkluk laut. Keanekaragaman dan keunikan binatang laut membuat dirinya kagum akan sikap manja dari sifat penyu. ” Pada kala itu saya temukan sedang bertelur di pantai Panga,” ujarnya.

Setelah melihat itu, rasa penasaran tinggi seakan menjadi desakan. Sedikit memilik pengalaman kerja semasa di NGO Caritas hampir setahun lamanya, Dedi Penyu kala itu terbesit di fikiran untuk memiliki sebuah lembaga penyelamat penyu di kawasan Kecamatan Panga, Aceh Jaya.

Papan informasi seputar aktifitas Lembaga konservasi penyu Aroen Meubanja, Minggu (24/11/2020) (Foto/Zahlur Akbar)

Singkat cerita, Di tahun 2012 silam Dedi Penyu pun Menahkodai Aroen Meubanja, satu lembaga bergerak di bidang konservasi. Bersama beberapa para pemuda lainnya. Sejak itu hingga kini, dirinya selalu berinteraksi dengan si bayi mugil penyu, yang akrab mereka sebut dengan sebutan tukik.

Bak tentara tanpa senjata berada dalam peperangan, bermodalkan ketekunan dan kesabaran terkadang bukan hanya penyu yang menjadi tanggung jawabnya untuk di jaga, satwa lain pun tidak luput dari pantau nya.

“Fokus utama memang penyu namun kami juga memantau perkembangan binatang laut lain,” ujarnya tegas, seakan mengisyaratkan jika satwa yang sudah langka keberadaanya menjadi perhatian serius dari semua pihak.

Dedi Penyu saat menjadi pemateri pada pelatihan pengelolaan kolaboratif staf taman nasional terkait konservasi penyu di Kluet Selatan, Sabtu, (20/7/2019) (Foto/Dedi Hamid)

Apa yang di tanam itu yang di tuai. Mungkin, sepenggal peribahasa ini menjadi uraian dari kisah dan perjalanan Dedi Penyu mengukir prestasi. Kini, pria berbadan kurus tersebut telah menjadi pemateri di forum-forum lokal maupun nasional tentang pengembangan penyu.

Beranjak dari Pesisir Pantai Nissero Panga juga menjadi tempat dimana dirinya terus bergeriliya, bersosialisasi dan edukasi bersama masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestarian satwa-satwa yang hampir punah.

Dedi Penyu bersama Anggota Lembaga Konservasi Aron Meubanja sedang menjaga induk penyu jenis belimbing bertelur di Kawasan Pantai Penyu, (Foto/ Dokumen Republikaceh)

Berbekal pengalaman dan hanya lulus dari Sekolah Dasar. Setiap tahunnya bersama rekan-rekan, dirinya juga membimbing mahasiswa magang dari berbagai universitas ternama di Aceh.

Hebat, mungkin itu kata yang tepat untuk pria yang kini berstatus sebagai Ketua Umum DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Aceh Jaya. (Zahlur Akbar)

REKOMENDASI