Keude Geudong di Bongkar, Muslim Syamsuddin Kecewa Sikap Pemkab Aceh Utara

  • Whatsapp

Mobil pengangkut, Trado membawa membawa excavator pada saat pembongkaran keude Geudong, Aceh Utara, Selasa (7/1/2020) (Foto/Ist)

Aceh Utara | republikaceh.com – Sejumlah emak-emak berpropesi sebagai pedagang pasar inpres Keude Geudong Kabupaten Aceh Utara menghadang proses pembongkarang pasar tersebut dilakukan oleh Perusahaan Daerah (PD) Bina Usaha, Selasa (7/1/2020).

Raynatul Hilmi (37) salah seorang pedagang, rukonya ikut juga di bongkar kepada republikaceh.com menyampaikan, dirinya merasa kecewa atas usaha pembongkaran Keude Geudong dilakukan secara sepihak oleh pengembang.

Pasalnya, hingga saat ini proses pembayaran dan skema ganti rugi belum ada kejelasan.

“saat ini, ada 76 pedagang di pasar inpres Keude Geudong sedang melakukan gugatan di Pengadilan Negeri Lhoksukon, atas rencana pembongkaran pasar inpres tersebut,” ungkapnya.

Proses gugatan di pengadilan Negeri Lhoksukon sedang berjalan. “hari senin (6/1/2020) kemarin baru memasuki sidang ketiga yaitu tahap mediasi, artinya, belum ada satu keputusan,” lanjutnya.

Seorang pedagang membawa anaknya melintasi excavator pada saat pembongkaran Keude Geudong, Selasa (7/1/2020) (Foto/Ist)

Menurutnya, Seharusnya Pemerintah Daerah terlebih dahulu menyiapkan pasar baru untuk relokasi pedagang sebelum melakukan pembongkaran.

Sehingga, para pedangan dapat mempersiapkan segala bentuk antisipasi pemindahan barang dagangannya.

“Jadi wajar jika nyak- nyak penjual sayur menghadang excavator ketika melakukan pembongkaran pasar,” terang Raynatul.

Reynatul juga memberi apresiasi kepada seluruh unsur, terutama Wakapolres Lhoekseumawe dan Kabag ops yang telah mendengar dan bernegosiasi dengan humanis. Sehingga, usaha pembongkaran tidak dilakukan secara paksa.

Sementara itu, Muslim Syamsuddin ST, MAP, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), saat dimintai tanggapannya kepada republikaceh.com Selasa (7/1/2020) mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap sikap pemerintah Aceh Utara, terkait penggusuran masyarakat di pasar Geudong.

Muslim menyebutkan, Penggusuran yang di lakukan Pemerintah dinilai tidak memperhatikan tatanan sosial kehidupan masyarakat.

Sejumlah mahasiswa dari Kampus Unimal melakukan aksi protes terkadap pembongkaran keude Geudong, Selasa (7/1/2020) (Foto/Ist)

Pasalnya, Pemerintah belum menyelesaikan negosiasi dengan seluruh pedangang yang mencari nafkah untuk keluarga di lokasi tersebut.

“Seharusnya pemerintah Aceh Utara mengambil sikap untuk memanggil semua pihak, jangan menyerahkan segala sesuatu kepada perusahaan daerah” Kata Muslim.

Lebih lanjut Muslim menjelaskan, dalam kasus ini dirinya tidak melihat, siapa yang salah dan benar. Namun, pemindahan tempat usaha atau penertiban pasar memiliki standar, tata cara dan juga tahapan.

Meskipun tahapan tersebut sudah di lakukan, ada baiknya pemerintah dapat mencari jalan keluar lain, tanpa menimbulkan kerugian pihak manapun

“Jangan sampai pemerintah ingin menciptakan perekonomian baru dengan membangun ruko, tapi malah merusak ekonomi yang sudah berjalan”, Ujar Muslim.

Muslim berharap, Pemerintah Aceh Utara memanggil kembali masyarakat yang terdampak akibat dari penggusuran tersebut, bagaimanapun, Pemerintah harus memberi solusi yang terbaik terkait hal tersebut

“Kalau langsung di gusur kasian masyarakatnya, mau kemana mereka mencari rezeki untuk menghidupi keluarga” pungkas Muslim. (Zaman Huri).

Berikut cuplikat vidio hasil kiriman warga:

REKOMENDASI