Diduga Jadi Korban Pengeroyokan, Satu Wartawan Di Aceh Ditetapkan Sebagai Tersangka

  • Whatsapp
Teuku Dedi Iskandar Wartawan LKBN Antara (Dok/Ist)

Meulaboh | republikaceh – Dugaan pengeroyokan dilakukan sekelompok orang terhadap Teuku Dedi Iskandar, beberapa bulan lalu di salah satu warung kopi, Kota Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Kekinian, pihak Polres Aceh Barat, telah menetapkan Wartawan dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara itu, sebagai tersangka kasus penganiayaan kepada Teuku Erizal, salah seorang dari kelompok yang diduga melakukan pengeroyokan terhadap Dedi. Pihak kepolisian polres setempat “menjerat” Dedi Iskandar, dengan pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) ancaman hukuman 2,8 tahun penjara.

Sebelumnya, pasca dugaan pengeroyokan dilakukan oleh sekelompok orang itu menyebabkan Wartawan LKBN Antara, Teuku Dedi Iskandar, mendapat perawatan beberapa hari di RSUD Cut Nyak Dhien, Kota Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

Sementara, Dedi Iskandar, saat dihubungi media ini membenarkan penetapan status tersangkanya. “Iya, saya dijerat dengan pasal 351, Juncto 352, ancaman hukuman 2,8 tahun penjara,” katanya, Kamis malam, (20/2/2020)

Dedi sendiri mengaku bingung “bin” heran dengan status penetapan dirinya sebagai tersangka, tuturnya kepada media ini. Menurut dia, sampai hari ini, saya hanya diperiksa dan diminta keterangan satu kali, yaitu hari Senin, 27 Januari 2020 lalu.

Sedangkan sebelumnya, ia ada diklarifikasi penyidik soal laporan dari salah satu pelaku yang turut mengeroyoknya. Lalu, pada tanggal 31 Januari 2020, saya kembali dipanggil polisi, tetapi pemanggilan itu dibatalkan oleh mereka dengan alasan tidak saya ketahui. “Nanti akan dijadwalkan ulang pemanggilan, kata mereka kepada saya,” imbuh Dedi.

Kemudian, pada tanggal 6 Febuari 2020, saya dipanggil lagi oleh penyidik karena akan ditetapkan sebagai tersangka. “Namun, kebetulan saat itu berdekatan dengan kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) di Banjarmasin, saya meminta untuk dijadwalkan ulang. Berikutnya ada pemanggilan kembali, yaitu hari ini, berdasarkan surat pemanggilan awal. Saya kembali dipanggil pihak penyidik yang mengatakan telah menetapkan saya sebagai tersangka kasus pencekikan yang dilaporkan oleh salah satu pelaku pengeroyokan kepadanya, kata dia.

Dalam laporan disampaikan pelaku, ungkap Dedi Iskandar, salah satu pelaku pengeroyokan itu menyebut dalam laporannya, bahwa saya telah melakukan pencekikan kepada dia saat peristiwa pengeroyokan dilakukan sekelompok orang itu kepada saya didalam warung kopi Elnino. Atas laporan itu, kepolisian menetapkan dirinya sebagai tersangka. Apa ini? “Sudah saya menjadi korban pengeroyokan, kok malah sekarang status ditetapkan sebagai tersangka atas laporan pencekikan kepada orang yang telah mengeroyok saya, tanya saya dalam hati.

Dijelaskan Dedi, saat kejadian itu, saya tidak mencekik. Bila dikatakan mencekik, saya tegaskan tidak ada pencekikan saat pengeroyokan terjadi kepada saya. Menurut dia, saat itu ia hanya berusaha untuk melindungi dadanya dengan kedua tangan, menghindar supaya tidak dipukul mereka lagi. Saat kejadian, masih menurutnya, dia melihat salah satu dari pelaku pengeroyokan yang mendorongkan leher dan badannya kearah lengan kiri saya. Seketika itu juga ada yang mengambil gambar, ceritanya.

Dengan status tersangka ini, sebagai warga negara taat hukum sebut Dedi Iskandar, saya kan mengikuti aturan hukum ini. Namun demikian, dengan persoalan yang terjadi ini, jujur saya katakan, saya buta hukum dan saya tidak mengerti hukum. Saya menduga telah dizalimi oleh hukum.

Ia memohon supaya  kasus ini bisa menjadi perhatian dari Kapolri, Kapolda Aceh, dan Bapak Presiden Jokowi. Tolonglah, ucap Dedi. Sebagai Warga Negara Indonesia, sebagai seorang jurnalis, ia tidak paham dengan hukum. Pihak terkait, harapan saya bisa melihat hukum dengan lebih jelas, lebih arif dan bijak, harap Teuku Dedi Iskandar.

“Saya sudah jadi korban, jangan sampai masyarakat awam lain bisa saja menjadi korban seperti saya. Karena sampai saat ini, dia masih percaya kepada pihak Kepolisian dan Polisi Polres Aceh Barat.” Pungkasnya (DP)

REKOMENDASI