Dibalik Kasus Oknum Karyawati Bank BRI, YARA Menilai Ada Motif Lain

  • Whatsapp
Rs alias Vina (27) Oknum karyawati Bank BRI Cabang Blangpidie yang menjadi tersangka pengelapan uang Nasabah (Foto/Ist)

Blangpidie | republikaceh – Yayasa Advokasi Rakyat Aceh (YARA) perwakilan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menduga dalam kasus oknum karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) berinisial RS atau Vina (27) ada motif lain.

Pasalnya, hingga saat ini baru enam orang yang melaporkan perempuan warga Desa Meudang Ara, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten setempat, dengan kerugian Rp 3,6 miliar.” Kata Sekjen Yara, Erisman, SH diblangpidie, Jum’at (10/7/2020).

BACA JUGA

Menurut Erisman, jika merujuk kepada hasil pemeriksaan sementara pihak kepolisian, bahwa sampai saat ini RS sudah berhasil menggelapkan uang nasabah Rp 6,3 miliar rupiah.

“Ada apa dengan kasus ini, karena sampai saat ini masih enam orang yang melapor ke polisi dengan kerugian Rp 3,6 miliar. Sedangkan kita hilang uang puluhan juta saja cepat melapor, tapi ini sudah ratusan juta hilang tapi tidak ada korban yang berani melaporkan, ada apa dalam kasus ini, maka dari itu kita patut menduga jika dalam kasus ini ada motif lain,” ungkapnya.

Erisman menduga, bahwa modus pelaku kepada nasabahnya bukan hanya dengan memberikan hadiah. Namun patut diduga jika pelaku RS alias Vina ada hal lain yang ditawarkan kepada korban atau nasabahnya.

“Sekarang kita lihat, pejabat dan pengusaha kenapa tidak ada berani yang melapor, tapi kebanyakan yang sudah melapor orang tua dan wanita, sementara yang lain tidak ada. Maka kami meminta kepada penyidik agar serius menangani kasus ini dan tidak hanya saja melakukan pemeriksaan terhadap RS, tapi juga suaminya,” jelasnya.

Selain itu, keterangan dari suaminya sangat penting dalam mengungkap kasus ini untuk mengetahui lebih dalam peran suami dalam kasus tersebut, apalagi selama ini publik juga bertanya peran suami RS dibalik kasus yang sudan banyak merugikan nasabah.

“Kita berharap supaya penyidik menjerat pelaku dengan UU tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), karena jika dijerat dengan pasal 372 dan 378 Kitab UU Hukum Pudana (KUHP) tidak cukup,” sebutnya.

Alasan tidak cukup menjerat RS dengan pasal tersebut, disebabkan RS sudah sangat banyak memiliki aset sehingga sudah sangat tepat jika pelaku dijerat dengan UU TPPU.

“Oleh karena itu, patut kita duga, jumlah korban tidak sedikit, dan angkanya bukan Rp 3,6 miliar saja, tapi lebih dari Rp 6 miliar. Dan kita meminta kepada penyidik harus mengungkapkan kasus ini secara terang menderang, termasuk memeriksa pihak bank BRI,” demikian pungkasnya. (Mustafa)

REKOMENDASI