Diduga Lalai Beri Pelayanan Prima, GeRAK Soroti ” Insiden ” di BLUD RSUD CND Melaboh

  • Whatsapp
Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syah Putra (Dok/Ist)

Melaboh | republikaceh – Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy Syah Putra, menyoroti kejadian beredarnya atas peristiwa video di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien (BLUD RSUD CND) Meulaboh.

“Benar-benar aneh dan membingungkan, dimana pasien tidak dilakukan rapid test, ronsen, serta swab dan malah kemudian di vonis memiliki gejala terpapar COVID19. Kami menduga jelas ada pengabaian tindakan kesehatan terhadap pasien tersebut,” ujar Edy melalui rilis yang diterima media ini, Kamis (27/8/2020)

Dirinya menjelaskan, Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Kewajiban Rumah Sakit DAN Kewajiban Pasien pada Pasal 5 ayat (1) Informasi yang berkaitan dengan pelayanan medis kepada Pasien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b meliputi: a. pemberi pelayanan; b. diagnosis dan tata cara tindakan medis; c. tujuan tindakan medis; d. alternatif tindakan.

“Kami melihat adegan ini sangat konyol dan kami menduga petugas medis atau lalai dalam memberikan layanan prima terhadap pasien yang membutuhkan pertolongan, bahkan dalam video tersebut terlihat keluarga pasien semakin marah dikarenakan salah satu keluarganya telah meninggal dunia.”

“Kami mengutuki atas kejadian ini, dimana kami menduga ada pengabaian terhadap pelayanan medis yang diberikan kepada pasien tidak maksimal, dan atas hal tersebut kami mendesak manajemen untuk segera melakukan klarifikasi secara jelas dan terbuka ke publik” ungkap Edy

Dirinya menduga ada pihak yang tidak jujur dalam upaya penyelamatan terhadap pelayanan publik tersebut. “sebagaimana diketahui bahwa status RSUD CND Meulaboh baru saja naik tingkat Kembali menjadi status B,” jelasnya

Dirinya menerangkan, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Kewajiban Rumah Sakit DAN Kewajiban Pasien, Pasal 2 ayat (1) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban: a. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat; b. memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit; dan c. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya;

“Kita mendesak agar Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat segera memanggil pihak keluarga pasien dan juga manajemen RSUD CND Meulaboh guna dimintai pertanggungjawabannya, mengingat DPRK sendiri sudah memberikan beberapa rekomendasi perbaikan, baik kualitas dan mutu pelayanan terhadap rumah sakit tersebut,” ujar Edy.

Desakan lainnya, lanjutnya, adalah mendesak Bupati untuk memberikan warning atas kejadian tersebut, “Kami menduga manajemen RSUD CND Meulaboh Seperti tidak belajar atas berbagai kejadian masa lalu yang sebagaimana diketahui juga menyebabkan adanya pasien yang meninggal dunia,” ujar Edy

Sreencrot vidio dugaan kelalai tenaga medis di BLUD RSUD CND Melaboh (Dok/republikaceh)

Dirinya juga meminta agar Eksekutif (pimpinan daerah) untuk serius menangani persoalan ini dan benar-benar peka dengan fenomena di rumah sakit itu, “Beuk Peut Mata.” Begitu juga Legislatif (DPRK) sebagai lembaga pengawas yang sudah diberikan mandat oleh Undang-undang, jangan hanya ongkang-ongkang kaki saja dalam rapat dan di kursi empuk.

Hal tersebut, tambahnya, sebagaimana amanah didalam Permenkes 56 tersebut, pada Pasal 37 ayat (1) Pelayanan medik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf a, paling sedikit terdiri dari: a. pelayanan gawat darurat; b. pelayanan medik umum; c. pelayanan medik spesialis dasar; d. pelayanan medik spesialis penunjang; e. pelayanan medik spesialis lain; f. pelayanan medik subspesialis; dan g. pelayanan medik spesialis gigi dan mulut. Ayat (2) Pelayanan gawat darurat, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, harus diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara terus menerus.

“Kami menilai, manajemen harus benar-benar intropeksi terhadap manajemen awal dan benar-banar becus mengelolah rumah sakit plat merah tersebut. Hal ini dilakukan segera. Sebab, jika dibiarkan berlarut-larut, akan memberikan dampak menurunnya pelayanan di rumah sakit itu kepada publik”

Apalagi, menurutnya, kesehatan merupakan salah satu pelayanan dasar yang diberikan pemerintah kepada masyarakat. ”Secara aturan, etika dan profesionalitas, nilai keadilan, fungsi sosial, atau dari sisi kemanusian, kami melihat ada pelayanan medis yang diabaikan.”

“Apa yang kami sampaikan adalah apa yang sudah tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Kewajiban Rumah Sakit DAN Kewajiban Pasien. Dimana dalam Pasal 1 angka 1 dalam Peraturan Menteri tersebut menyebutkan bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan Kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat”

“didalam angka 5 disebutkan bahwa Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan” tutup Edy

Informasi yang berhasil dihimpun republikaceh.net, Keluarga salah seorang Pasien yang diduga corona meninggal dunia di ruang Penyakit Infeksi Emeeging dan Reemerging (Pinere) RSUD CND Meulaboh, Rabu, (26/8) malam sekira pukul 22.00 WIB mengamuk di RSUD CND Meulaboh.

Dalam video tersebut yang berhasil diperoleh republikaceh.net, terlihat keluarga pasien yang mengamuk terhadap sejumlah petugas medis di ruang yang kami duga ruang COVID19.

Dari dalam video berdurasi 3,51 menit tersebut terlihat mengamuknya keluarga pasien tersebut diduga karena pelayanan medis yang diberikan oleh petugas terkesan lambat untuk menangani pasien yang sudah mulai atau terlihat sekarat.

Rekaman video tersebut terlihat ada kursi beserta kotak yang dilemparkan kearah petugas medis yang terlihat masih berupaya memakai alat pelindung diri (APD) COVID-19, selain itu juga ada kalimat sumpah serapah yang dialamatkan kepada petugas medis tersebut. (Redaksi)

REKOMENDASI