Beredar Video Penolakan Pasien, Begini Klarifikasi RSUD Teuku Umar Calang

  • Whatsapp
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Teuku Umar Calang, dr Eka Rahmayuli saat memberikan keterangan kepada awak media diruang kerjanya (Foto/Ist)

Calang | republikaceh – Masyarakat Aceh Jaya dihebohkan dengan beredarnya video diduga penolakan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Teuku Umar Calang.

Dari video yang berasil diperoleh republikaceh.net dari salah satu grub WhatshApp, diduga kejadian berada di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah Teuku Umar Calang.

BACA JUGA

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Teuku Umar Calang, dr Eka Rahmayuli saat dikonfirmasi pada Rabu (7/10/2020) memberikan klarifikasi terkait beredar video tersebut.

Dirinya menjelaskan, jika kejadian tersebut terjadi pada hari Senin (5/10/2020) pagi. Pasien mengalami penurunan kesadaran dengan sesak berat.

Setelah dilakukan pemeriksaan lab dan radiologi dicurigai COVID-19. Pasien disarankan rawat di ruang pinere. Namun, keluarga pasien menolak tanda tangan inform consent (surat persetujuan rawat, dan aturan-aturan yang ada di Ruangan) rawat di ruang pinere, dikarenakan ada point yang menyatakan jika pasien yang dicurigai COVID-19 meninggal dunia maka akan dilakukan prosedur kesehatan COVID-19.

“Keluarga pasien sempat marah-marah dan mengancam petugas dan meminta pasien dipulangkan. Setelah di edukasi, akhirnya pasien di rawat di ruang pinere. Tetapi tidak mau di lakukan pemeriksaan SWAB, dan Pasien sekarang masih di rawat di RSUD TU Calang” ujar Eka.

Kembali Eka mengungkapkan, RSUD Teuku Umar Calang tidak berani mengambil resiko, pasien yang dicurigai COVID-19 di rawat di ruang biasa dikhawatirkan akan beresiko terhadap pasien lain dan petugas kesehatan.

“Jadi, bukan RS menolak pasien, tetapi keluarga yang tidak mau mengikuti peraturan RS.” tegas Eka

Dirinya kembali menerangkan, RSUD Teuku Umar Calang tidak pernah mengcovidkan semua pasien yang datang berobat dan sejauh ini hanya sedikit pasien yang di rawat di ruang pinere.

“untuk kita putuskan rawat di ruang tersebut pun melalui beberapa prosedur. Selain gejala klinis, rapit tes, juga pemeriksaan penunjang yang lain, seperti laboratorium dan radiologi. Selama bulan Maret sampai September, kita hanya merawat pasien di ruang pinere sebanyak 36 pasien dari jumlah pasien yang kita rawat mencapai 3000 pasien,” ungkapnya

Sambungnya, Kalaupun pasien berobat ke Rumah Sakit dan tidak mau di rawat juga hak pasien dan Rumah Sakit tidak pernah memaksakan harus di rawat.

“Kalaupun pasien kita curigai COVID-19 atau rapit reaktif, jika masih memungkinkan tidak di rawat, bisa kita pulangkan dengan obat-obatan rawat jalan. Jadi kita tidak berharap muncul pemahaman-pemahaman yang salah terhadap Rumah Sakit. Seolah-olah semua pasien kita Covidkan,” ujarnya.

Ia menghimbau, jika masyarakat sedang sakit segera berobat, jangan karena takut di bilang COVID-19, sudah kondisi parah baru di bawa ke RS. Padahal kalau cepat di tangani bisa segera sembuh.

“COVID-19 itu bukan aib, hari ini orang yang kena, besok bisa jadi kita. Kita gak tau kapan pandemi ini selesai. Mari sama-sama kita dukung dan support saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, jangan dikucilkan. Jangan di beri stigma negatif. Insya Allah, masa sulit ini akan kita lewati sama-sama” tutupnya. (Mahlil)

 

Video yang beredar yang diduga penolakan pasien di RSUD Teuku Umar Calang.

 

 

REKOMENDASI