Adnan NS Dukung Inisiator Garda Indonesia Jadi Donatur Tetap Gerakan Bantu Kaum Dhuafa di Aceh

  • Whatsapp
Adnan NS (Kanan ujung) bersama Insiator Gerakan Relawan Rumah Dhuafa (GARDA Indonesia), Aduwina Pakeh, Rabu (9/12/2020) (Foto/Ist)

Meulaboh | republikaceh – Insiator Gerakan Relawan Rumah Dhuafa (GARDA Indonesia), Aduwina Pakeh, mendapat dukungan dari Adnan NS, mantan Ketua PWI Aceh, juga mantan Anggota DPD – RI, periode 2004- 2009, putra asli barat selatan Aceh, dengan menjadi donatur tetap melalui #Gerakan10Ribu untuk membantu kaum dhuafa di Provinsi Aceh.

Dukungan itu disampaikan Adnan NS, secara langsung kepada Aduwina Pakeh, S.Sos., M.Sc, di ruang kerja Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), setelah pertemuan antara tokoh perjuangan calon provinsi baru di wilayah barat selatan Aceh, dengan Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE., MBA, Rabu, 9 Desember 2020.

BACA JUGA

Kata Adnan, ia memberikan apresiasi dan dukungan dalam gerakan sosial yang digagas oleh Dosen Sosiologi FISIP UTU tersebut. “Karena, nilainya dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.”

Gerakan ini, menurut mantan senator itu, satu hal yang patut kita dukung dan oleh semua pihak. Alasannya, dengan nilai diminta hanya Rp10.000 rupiah saja perbulannya, kita sudah dapat membntu orang lain, imbuhnya.

“Saya rasa, semua dari kita dapat ikut serta,” sebut Adnan. Apalagi, yang dibantu adalah rumah-rumah dhuafa yang tidak layak huni yang masih banyak ditemui di berbagai daerah di Provinsi Aceh.

Menurut Adnan, dengan gerakan yang digagas ini, hal itu sangat sederhana dan mudah. Adnan pun, mengajak masyarakat barat selatan, Aceh, khususnya para pemuda turut memberikan dukungan kepada GARDA Indonesia ini. “Sehingga, akan banyak warga dhuafa yang dapat terbantu,” harapnya.

Sementara, Aduwina Pakeh, ia mengaku terharu atas dukungan diberikan salah satu putra terbaik barat selatan, Aceh itu. “Dukungan seperti ini, sebut Aduwina, ini sangat berharga bagi kami. “Apalagi pengaruh beliau sudah di tingkat nasional serta aktif di berbagai organisasi pergerakan dan media.

Mungkin, kata Aduwina Pakeh, bagi sebagian orang akan menganggap remeh dengan nilai uang Rp10.000 rupiah. Namun, bagi kami, 10 ribu rupiah ini sungguh berarti. “Dengan sepuluh ribu rupiah, jika diakumulusikan hingga saat ini, pihaknya sudah mampu melakukan rehabilitasi satu unit rumah dhuafa.

Selain itu, ia mengatakan, bahwa GARDA Indonesia ini mengusung konsep #Gerakan10Ribu rupiah, dengan cara mengajak ummat bergabung menjadi donatur tetap dengan memberikan donasi Rp10.000 perbulan/perorang.

“Donasi itu, nantinya akan diarahkan guna pembangunan/rehabilitasi rumah dhuafa (tidak layak huni).” Untuk membangun/merehabilitasi sebuah rumah, sebut dia, membutuhkan biaya yang besar. Maka, dengan adanya GARDA ini kita bisa mendapatkan bantuan para donatur. “Sehingga, nantinya, akan ada nilai donasi yang sama dan memudahkan kita dalam sosialisasi maupun terkait transparansi,” jelas Aduwina Pakeh.

Gerakan sosial ini, masih kata Aduwina Pakeh, lahir atas sikap keprihatinan karena masih banyak ditemukan masyarakat miskin (kaum dhuafa) yang tinggal dirumah-rumah tidak layak huni, yang tersebar di berbagai daerah di Aceh.

Jadi, dengan kehadiran GARDA Indonesia, ini menjadi satu bagian dari partisipasi masyarakat dalam upaya mendukung pengentasan kemiskinan dan pembangunan daerah.

“Hanya dengan jumlah Rp10 ribu rupiah perbulannya, namun kita bisa secara melakukan secara berkelanjutan,” terang Aduwina.

Selain itu, jika nanti ada yang ingin mendonasikan lebih dari jumlah Rp10 ribu, Aduwina Pakeh menerangkan, bisa dilakukan dengan cara menambah daftar nama donatur. Contohnya, jika kesediaan 50 ribu perbulan, berarti untuk lima orang donatur (satu keluarga).

Aduwina mengatakan, bahwa kita bermimpi suatu saat nanti jumlah donatur yang bergabung dalam GARDA Indonesia ini, bisa mencapai 10.000 orang. “Sehingga jika dikalkulasikan 10.000 orang donatur dikalikan Rp10.000 rupiah perbulannya, maka akan terkumpul donasi sebanyak 100.000.000 (seratus juta rupiah).”

Lali, dengan dana sebesar itu, kata dia, kita akan mampu membangun dua rumah sederhana tipe 6×6 atau merehabilitasi sebanyak empat, hingga lima rumah bagi kaum dhuafa, kata pria kelahiran tahun 1987, di Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, itu.

Selain itu, Alumni University Malaysia Terengganu (UMT) itu menambahkan, hingga hari ini jumlah donatur yang telah bergabung dalam GARDA Indonesia, sebanyak 1.120 orang. Atau 11,2 persen dari yang ditargetkan.

“Alhamdulillah, donatur yang bergabung bersama kita dalam gerakan sosial ini dari berbagai latar belakang sosial, politik, ekonomi dan lainnya.

Intinya kita mengusung kesetaraan dan gotong royong dalam gerakan ini,” tutup Aduwina Pakeh. (Zahlul Akbar)

REKOMENDASI