Catatan GeRAK: Tambang Emas Illegal di Aceh Barat Berpotensi Merugikan Negara

  • Whatsapp
Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syahputra, (Foto / Ist)

Melaboh | republikaceh.net – Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat sepanjang tahun 2018-2020 catat sebanyak empat kali upaya upaya penertiban dan penegakan hukum di sektor pertambangan secara ilegal di Kabupaten Aceh Barat yang terkenal di Kecamatan Sungai Mas, Panteu Cermin, dan Panton Reu.

Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy Syahputra melalui tulisan yang diterima republikaceh.net, Selasa (12/1/2021) mengungkapkan, PADA 2016, Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh telah melaporkan hasil pantauan tambang emas ilegal di Kabupaten Aceh Barat ke Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

BACA JUGA

Diperkirakan, dalam sebulan penambang bisa menghasilkan emas 89.262,9 gram. Jika dikalkulasikan benar-benar mencapai 1.071.154,5 gram atau 1,1 ton, jika setiap gram emas dijual seharga Rp. 400.000, kerugian negara mencapai Rp. 568.361.004.627.

“Ini hanya perkiraan di Aceh Barat dan angka kalkulasi hanya 400 ribu rupiah dan itu ditahun 2016. Saat ini kita berada di tahun 2020, ada potensi kerugian keuangan negara yang angkanya mencapai puluhan miliar rupiah dan itu terus terus menerus bocor, belum lagi soal kerugian yang ditimbulkan akibat bekas lobang tambang yang terbiarkan mengangga ”ungkap Edy.

Menurut Edy, proses penertiban dan penegakan hukum ini patut didukung oleh semua pihak guna mencegah timbulnya efek kebencanaan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah yang menurut hemat kami sudah menimbulkan kerusakan yang parah.

Dampak yang akan membantu bukan tidak mungkin seperti banjir bandang yang diakibatkan kerusakan lingkungan yang terjadi hingga saat ini dan berdasarkan hasil pantauan dilapangan aktifitas terus menerus berlansung seperti tidak kunjung dapat dicegah oleh pihak kepentingan, baik aparat keamanan, legislatif, dan eksekutif.

Baca juga: GeRAK Aceh Barat Desak Pemerintah Tertipkan Tambang Emas Illegal

Dampak lainnya adalah soal tercemarnya sungai yang diakibatkan proses pengelolaan tambang yang dilakukan secara ilegal dan tidak memakai kaedah tata kelola pengelolaan yang baik sesuai dengan aturan Undang-undang.

“Bahwa GeRAK Aceh Barat dalam konteks penindakan hukum tentunya mendukung upaya penuh dapat dilakukan secara tuntas dan tanpa pandang bulu, kita meminta aparat penegak hukum (polisi) untuk mengambil tindakan hukum tidak hanya pekerja tambang yang disasar, namun juga kepada pihak pemilik modal atau tauke dan mereka yang memberikan aliran minyak secara ilegal untuk alat berat excavator beko yang diperkejakan untuk mengeruk tanah atau material tambang “ungkap Edy

Bahkan, Lanjutnya, salah satu dokumentasi dilapangan, GeRAK Aceh Barat menemukan salah satu alat berat excavator beko sedang bekerja didalam aliran sungai yang terletak di Desa Gleung, Kecamatan Sungai Mas.

Tercatat, dan berdasarkan data lapangan, bahwa GeRAK Aceh Barat juga menyarankan untuk menemukan sewa menyewa alat berat tersebut ke pekerja tambang secara ilegal yang dapat dioperasikan untuk mengoperasikan pertambangan ilegal tersebut.

“Menurut hemat kami, siklus ini harus dibongkar dan Proposal terbuka ke publik untuk diketahui siapa yang dibalik para pemodal dan mereka yang diduga menjadi pendukung dan mereka yang menikmati aliran upeti atau setoran dari aktifitas tambang ilegal” pungkasnya. (Redaksi)

REKOMENDASI