Filosofi Kehidupan Tukik Ingatkan Dandim Aceh Jaya Akan Kehidupan Wartawan

  • Whatsapp
Komandan Kodim 0114/Aceh Jaya Letkol Czi Arief Hidayat, M.Han dan Kajari Aceh Jaya, Chandra Saptaji saat menghadiri kegiatan pelepasan tukik di kawasan konsevasi Aron Meubanja, Sabtu (6/2/2021) (Foto/Zahlul Akbar)

Calang | republikaceh.net – Menghadiri undangan para wartawan yang bergabung dalam Balai Persatuan Indonesia (PWI) Aceh Jaya melepasliarkan tukik (anak Penyu) di kawasan konservasi di Desa Keude Panga Kecamatan Panga, Sabtu (6/2/2021) melahirkan kisah tersendiri bagi Komandan Kodim 0114/Aceh Jaya Letkol CZI Arief Hidayat, M.Han.

Apresiasi Dandim untuk pewarta Aceh Jaya yang telah menyelenggarakan pelepasan tukik bersama aktifis pelestarian penyu yang tergabung dalam Komunitas Aron Meubanja. Kegiatan ini merupakan bagian rangkaian kegiatan menyambut Hari Pers Nasional (HPN) ke 75 pada tanggal 9 Februari mendatang.

“Bagi saya, kegiatan ini (pelepasan tukik) luar biasa” ujar Dandim usai melepaskan tukik dan ditemani sejumlah wartawan di pos konservasi.

“Kerasnya kehidupan anak penyu mengingatkan saya pada kehidupan wartawan,” ujar Dandim melanjutkan pembicaraan.

Dedi Penyu saat memberikan penjelasan tentang tukik kepada para mahasiswa magang di kelompok Aron Meubanja, Sabtu (6/2/2021) (Foto/Zahlul Akbar)

Menurutnya, Wartawan adalah bagian pengontrol sosial dan corong bagi masyarakat yang selama ini sudah berjalan luar biasa tanpa mengenal lelah.

“Ibarat tukik yang baru dilepasliarkan dan mengarungi derasnya gelombang laut menuju ke habitatnya untuk melangsungkan kehidupan” ujar Dandim.

“Filosofinya luar biasa” tambahnya.

Komandan Kodim 0114/Aceh Jaya Letkol CZI Arief Hidayat, M.Han saat melepasliarkan tukik di Pantai kawasan konservasi Aroen Meubanja, Sabtu (6/2/2021) (Foto/Zahlul Akbar)

Sebelumnya, Dandim telah mendapat penjelasan dari Ketua Kelompok Konservasi Penyu Aron Meubanja Murniadi alias Dedi Penyu jika peluang hidup tukik yang dilepasliarkan hanya satu persen saja.

Ancaman kepunahan tukik pun juga datang dari oknum masyarakat yang kerap mengambil telur tukik untuk dikonsumsi.

Baca juga: Sambut HPN, Pewarta di Aceh Jaya “Bermanja” dengan Tukik

Kelompok Konservasi Penyu Aron Meubanja berdiri sejak tahun 2012 silam. Mereka terus bersosialisasi dan memberikan edukasi kepada publik tentang satwa dilindungi tersebut yang keberadaannya hampir punah.

Lokasi ini sudah banyak didatangi oleh sejumlah kalangan, baik mahasiswa, peniliti maupun wisatawan yang berasal dari dalam maupun luar Provinsi Aceh.

Tukik atau anak penyu jenis lekang (Lepidochelys olivacea) berjalan menuju ombak saat dilepasliarkan di pantai kawasan konservasi Aron Meubanja, Sabtu (6/2/2021) (Foto/Zahlul Akbar)

Pesan pun Dandim sampaikan kepada para wartawan.

“Tetap semangat, tetap menjadi bagian kontrol sosial dan corong bagi masyarakat yang selama ini sudah berjalan luar biasa dan semoga ke depan menjadi lebih baik,” kata Dandim dihadapan para wartawan.

Disela mengakhiri pembicaraan, Dandim memberikan pesan khusus kepada insan pers agar terus meningkatkan kualitas pemberitaan dan tetap bertahan padi jati diri wartawan yang seharusnya. (Zahlul Akbar)

 

REKOMENDASI