Pahlawan itu Bernama Munawir

  • Whatsapp
Munawir (Foto/Ist)

Banda Aceh | republikaceh.net – Adun Munawir (30), warga Gampong Blangmee yang tengah menjadi pusat perhatian. Ia menyelamatkan puluhan telur penyu dari kepunahan dengan cara ditangkar.

Hasilnya, telur tumbuh menjadi tukik-tukik lucu dan menggemaskan. Tukik itulah yang kemudian dilepasliarkan dan disaksikan langsung oleh sejumlah Dinas terkait seperti Kepala DKP Aceh, Kepala BPSPL Padang, Kepala PSDKP Lampulo Aceh, Kepala SKIPM I Aceh, Kepala DKP Aceh Besar, Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan UNSYIAH, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar, Camat Lhoong, Aparatur Mukim Blangmee, Keuchik Gampoeng Blangmee, WCS Marine Aceh, WWF Indonesia hingga masyarakat setempat.

Adun Munawir mengatakan, Pelepasan Tukik ini menjadi modal awal untuk pelestarian penyu di pesisir Pantai Blangmee, Lhoong, Aceh Besar.

“Mudah-mudahan ini bisa diikuti di daerah lain di Kecamatan Lhoong, karena beberapa daerah di pesisir pantai kecamatan Lhoong menjadi titik-titik pendaratan penyu yang yang akan bertelur,” ucapnya dalam rilis yang diterima Sabtu (6/2/2021).

Baca juga: Sambut HPN, Pewarta di Aceh Jaya ” Bermanja” dengan Tukik

Adun Munawir bercerita, penangkaran penyu dilakukan olehnya lahir dari keprihatinan. Karena sepengetahuannya, dari tahun ketahun jumlah populasi penyu ini semakin sedikit dan sangat sulit ditemui

“Hal itu menggerakkan hati saya untuk menangkar telur-telur tadi supaya bisa ditetaskan, kemudian untuk dilepasliarkan ke laut lepas” jelas Munawir.

Sebelumnya, telur-telur penyu ditemukan oleh nelayan di sekitar pantai Blangmee pada Bulan November 2020.

“Telurnya saya dapatkan dari para nelayan dengan cara membelinya dengan modal uang sendiri. Semula ada sekitar 100 telur. Yang menetas 91,” tukasnya.

Baca juga: Filosofi Kehidupan Tukik Ingatkan Dandim Aceh Jaya Akan Kehidupan Wartawan

Telur-telur itu dirawat di dalam rumahnya, di Gampong Lamkuta Blangmee. Ia memanfaatkan media seadanya seperti pasir laut dan ember. Pasir dan bentuk sarang telurnya pun dibuat sama persis seperti lubang telur yang biasa terdapat di pantai

Penangkaran ini menjadi pengalaman pertama Munawir. Ada banyak hal yang didapatkan Munawir dari penangkaran ini.

“Normalnya penetasan telur itu 45-50 hari, akan tetapi karena pengaruh cuaca dan suhu, tukik menetas setelah 70 hari,” ujarnya.

Baca juga: “Sang” Penyelamat Penyu, Bermula dari Muara Hingga Forum Nasional 

Awalnya Munawir sempat tidak yakin telur ini akan menetas, karena sudah lebih dari waktu normal, namun dengan keyakinan akan usahanya yang sungguh sungguh.

Alhamdulillah hasil kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil. Hari ke-70 satu per satu tukik mulai keluar dari pasir dan hasilnya sungguh mengejutkan. Sebanyak 91 dari 100 telur berhasil ditetaskan 90 persen lebih, sungguh hasil yang sangat luar biasa.

Satu lagi yang dirasakan Munawir yakni merasa ada chemistry atau ikatan batin dengan tukik-tukik lucu nan menggemaskan itu. Karenanya ada rasa kehilangan dalam hatinya kala dilepasliarkan. Namun, secepatnya rasa itu berubah, karena pelepasliaran demi misi pelestarian.

Oleh karenya itu, Munawir berpesan bila ada pihak yang menemukan pendaratan penyu bisa menghubungi dia dan tim yang tergabung dalam Komunitas Ujoeng Tiba, telur-telur penyu akan dibeli dan dihargai sebagaimana mestinya dan nantinya akan dilakukan pengamanan dan penangkaran. Karena, populasi penyu saat ini sudah semakin langka.

“Mudah-mudahan dengan adanya penagkaran yang sederhana ini bisa ikut andil melestarikan kehidupan penyu, sehingga anak cucu kita kelak masih bisa melihat penyu yang bertelur ke pantai. ” tutupnya. (***)

REKOMENDASI