Putra Tgk. H. Ahmad Dewi: Muhammad Nazar Itu Bibit Unggul dan Aset Aceh, Jangan Disia-siakan

  • Whatsapp
Tgk. H. Fattahillah, Putra dari Tgk. H. Ahmad Dewi, bersama Irwandi Yusuf sat di India, (Foto/Ist)

Banda Aceh | republikaceh.net – Cendikiawan Muda Muslim, Tgk. H. Fattahillah, B. Com, M. Com, Putra dari Tgk. H. Ahmad Dewi, seorang ulama kharismatik dan paling kritis semasa Pemerintahan orde baru ikut menyorot perkembangan isu pengisian sisa jabatan Wakil Gubernur Aceh yang belum diisi sejak 5 November 2020 lalu.

“Posisi Pemimpin itu tak boleh kosong terus menerus. Tetapi juga tak boleh salah menempatkan orang di suatu kursi kekuasaan. Bukan sekedar isi jabatan, agar ada kemaslahatan dan rahmat bagi rakyat,” harapnya.

Mulai dalam tahun 2012, Tgk. Fattahillah yang kembali memimpin dan menormalkan fungsi Dayah B.T.M (Bale Teumpat Meununtut) Banta Yan Idi Cut, Aceh Timur yang ditinggalkan orang tuanya, Tgk. H. Ahmad Dewi, sangat mengharapkan agar semua pihak dan warga masyarakat di Aceh membiasakan diri bertindak disiplin terhadap nilai agama, undang-undang dan aturan yang berlaku. “Dalam nilai agama Islam, kepemimpinan itu tak boleh kosong. Tetapi pemimpin itu haruslah orang yang ahli memimpin dan juga mampu membangun. Kalau tidak ahli, maka akan tiba kehancuran,” ia menasihati.

Alumni tingkat Tsanawiyah Pesantren Modern Misbahul Ulum, Paloh, Kota Lhokseumawe yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke tingkat Aliyah di Qatar, Timur Tengah itu ikut merasa heran, mengapa pengisian jabatan Wagub Aceh berlarut-larut terus.

“Katanya kewajiban pengisian jabatan wagub tersebut merupakan bahagian dari Undang-undang Pemerintahan Aceh (UU-PA) dan juga ada dalam sejumlah peraturan perundang-undangan lainnya. Kenapa tidak dilakukan terus oleh yang berkewenangan untuk itu,” Tgk. Fattahillah mempertanyakan.

Menyangkut figur-figur yang telah beredar di berbagai media cetak dan online, alumni S1 dan S2 Fakultas Perdagangan dan Manajemen Bisnis, Universitas Agra India itu menyarankan, supaya partai-partai pengusung dan gubernur memilih yang berkualitas, memiliki kemampuan, telah berpengalaman dalam urusan pemerintahan dan pembangunan. Lebih ideal lagi apabila ada nilai tambahnya dalam urusan ilmu pengetahuan umum dan agama.

“Saya baca di sosmed dan media cetak ada beberapa nama, termasuk mantan Tgk. Wagub Muhammad Nazar. Kalau saya sebagai Gubernur atau pimpinan partai pengusung maka diantara nama-nama itu, saya memastikan akan memilih dan manfaatkan kelebihan Tgk. Wagub Nazar,” ujarnya.

Ia meneruskan pendapatnya, itu kalau kita Aceh ingin punya pemimpin yang ideal, demi perbaikan pembangunan, sekaligus untuk dapat membantu Gubernur Nova Iriansyah sendiri. Walaupun masa jabatan yang tersisa tak terlalu lama lagi. Tetapi ia yakin kehadiran Tgk. Wagub Muhammad Nazar akan bermanfaat bagi orang banyak.

“Dari masa kuliah saya di India saya sering mengikuti informasi tentang beliau. Ide-idenya dan pemikirannya, kehebatan lobi dan komunikasinya, jaringannya yang luas juga. Maka menurut saya, diantara siapapun wagub Aceh pasca perdamaian, Tgk. Wagub Nazar yang paling sukses,” nilainya.

“Kita harus akui, kesuksesan pembangunan Aceh itu mulai terlihat pada masa pemerintahan Irwandi-Nazar, meskipun jumlah APBA termasuk dana Otsus tidak sebesar nominal setelah masa pemerintahan keduanya. Sayang sekali setelah mereka berdua pensiunan waktu itu; banyak program pembangunan yang tidak lagi inovatif, kurang progresif, dan tidak berlanjut dengan baik. Jika sempat dua periode kepemimpinan Irwandi-Nazar, saya kira pasti lebih maju dan berkembang daerah kita ini,” ungkapnya.

Lanjutnya lagi, program-program pendidikan yang sangat massif, bukan hanya umum tetapi agama dan dayah, bahkan hingga beasiswa anak yatim adalah pada masa Tgk. Wagub Nazar bersama pak Irwandi. Hubungan dengan ulama yang dibangun Tgk. Wagub Nazar juga bagus sekali. Apalagi beliau pernah lama belajar kitab kuning di beberapa dayah juga, selain sekolah umum. Beliau juga mampu berkhutbah dengan isi yang sangat berkualitas, mengalir dalam berpidato, menulis bahkan berdebat ilmiah. Apalagi dalam memimpin, yang memang sudah terlatih dalam lembaga yang berintegritas (Zaman Huri)

REKOMENDASI