Duka Mendalam, Tokoh Pendidik Tanpa Jasa Itu Telah Tiada

  • Whatsapp
Adnan NS (kiri) bersama Almarhum M. junus Jc (Foto/Ist)

Calang | republikaceh.net – “Bang, bang, baaang. Bangun, bangun, bangun,” Seru istrinya, Jamilah NS, 77, membangunkan sang suami tercintanya, M. Junus Jc, 85 tahun. Pria di sebelahnya tetap tak bergeming walau sayup pengajian di Masjid Muttaqin Keutapang, Calang, menembus ventilasi paviliunnya.

Tangan guru perempuan ini pun langsung meraih badan, suami itu. Alangkah terkejutnya begitu melihat mata suaminya terpana dan lidahnya bergerak-gerak seperti sedang berzikir. Bagian kakinya dingin dan kaku.

“Nurahil, Nurahil,….Nurahil “, teriaknya memanggil putri sulungnya di pondok belakang sana. Yang dipanggil pun diam seribu bahasa. Rupanya I-il panggilan akrab untuk putri sulungnya dari lima bersaudara ini sedang melaksanakan shalat fajar.

Ketika itu jarum jam baru menunjukkan pukul 05.14 WIB. Melihat kondisi dingin kian menjalar, mereka terus membisikkan kalimah Allah Swt ke telinganya. Alunan yasinan dibacakan isteri dan putri pun memecahkan kehenian Selasa 23 februari 2021 pagi itu.

Bacaan Yasin ini bak mengiringi antaran kepergiannya. Tepat teng pukul 8.20 WIB, nadi Pak Junus, alias Bang Buyong  ini langsung stop untuk selama-lamanya, Innalillahiwainnailaihirajiun.

“Selamat jalan menuju syurga jainatun naim wahai: Abang Ku, Guru Ngaji Ku, Tokoh Panutan Ku, Orang Tua Kedua Ku dan Sahabat Setia Ku dalam setiap touring hablun minannas Ku” ujar Adnan NS seperti tulisannya yang diterima republikaceh.net, Senin (8/3/2021)

Ketokohan sosok seorang Junus bin Ja’cob ini tidaklah asing di Kabupaten Aceh Jaya ini. Terutama dalam dunia pendidikan beliau termasuk tokoh sangat handal. Ideologi keagamaan, idealisme kenegaraan serta kedisiplinannya tiada tara. Akhlakul karimahnya juga sangatlah terpuji.

Saat dipercayakan sebagai ketua Pemuda Krueng Sabe 1966-1967, Junus menggagas pembukaan jalan ke Krueng Beukah via kebun mertuanya dan Mantri Thaib. Pembuatan pagar tertutup untuk teupin (tempat) pemandian perempuan terpisah dengan lelaki. Sebelumnya jalan menuju hilir hanya via lorong Chik Mirek.

Pak Junus. Begitulah sapaan akrab kalangan masyarakat dari Lamno hingga ke Teunom di kapubaten ini. Usai tamatan Sekolah Guru Bawah(SGB) di Kota tua Meulaboh, pertengah tahun 1950-an langsung diangkat sebagai guru bhakti pada Sekolah Rakyat (SR) di Kota Lamno.

Sekolah ini tidak lain adalah tempat Junus pernah berlajar menimba ilmu hingga kelas empat(1945-1949). Selanjutnya pindah ke SR Gampong China, Calang, Ibukota Kewedanaan.

Kota kelahirannya ini tempat kediaman ibu dan keluarganya. Tamat dari SR Calang, dia melanjutkan ke jenjang atasnya di Meulaboh tahun 1951.

Sementara M. junus Sufi, teman akrab sekelasnya ketika di Lamno, lebih beruntung. Junus Sufi, begitu tamat S R langsung mendapat tugas belajar ikatan dinas pada jenjang Kursus Pengantar Wajib Belajar(KPWB). Junus Jc yang bermukim di Ujong Kareueng,  Meulaboh, tetap semangat belajar dengan biaya mandiri.

Tugas guru bakti perdana di Lamno. Tak lama di sini dimutasikan ke kota kelahirannya lagi. Bermukim di rumah panjang beratap rumbia Gampong Jawa beberapa tahun bersama ibunya Kamaliah.

Teman seangkatannya tamatan KPWB yang ikatan dinas langsung memperoleh gaji bulanan sebesar Rp175. Bila diconversikan, harga emas ketika itu Rp40, per mayam.

Sementara, Junus Jc hanya memperoleh honor sebesar Rp17, 50- saja. Aceh ketika itu sedang dilanda komplik bersenjata antara DI/TII(Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) pimoinan Daud Beureueh.

Junus muda  itu pun hijrah ke Medan, Sumatera Timur untuk mencoba mencari kehidupan barunya, dengan bekal kepandaian menjahit. Provinsi Aceh ketika itu dilikwidasi menjadi bagian dari Provinsi Baru Sumatera Utara. Istilah Sumatera Timur hilang dalam peredaran seiring terbentuknya provinsi Sumatera Utara.

Provinsi Daerah Istimewa Aceh (Dista) diberi ototomisasi kembali, pasca IKRAR Lamteh(MOU Damai Aceh-RI)1959. Pejuang handal Tgk. Daud Beureueh pun turun gunung. Aceh diberi keistimewaan dalam bidang agama, adat dan pendidikan.

Sosok Junus yang mulai laju menjahit di Medan dicari dan dipanggil pulang pada awal 1960-an. Ketika dijanjikan diangkat menjadi guru PNS untk memajukan wilayah kewedanaan Calang.

Pengangkatan Junus muda untuk penempatan di Lageuen, Setia Bhakti. Beberapa saat di situ Pecahnya Gerakan September Tiga Puluh(Gestapu) atau G.30 S PKI 1965.

Lageuen kala itu memiliki cap merah. Junus, ditarik sementara ke kampung halamannya sambil menjalani profesi ganda. Profesi guru dan usaha taylor bersama seniornya Anis Yusra di bilangan Kota Calang.

Di kota ini, Junus mempersunting gadis pujaannya eks siswa sekolah Pendidikan Guru Agama(PGA) Jambo Tapee, Banda Aceh. Gadis kelahiran Kruengsabe 1943 itu tidak lain adalah Jamilah binti Nyak Sarong ID. Jamilah itu cucu daripada Mando Gle (Arsyad) Keutapang, Calang, tempat Junus mengakhiri hidupnya. Mak Jomblangnya adalah Muhammad Syech Dayah Baro, asal Aceh Selatan.

Beberapa tahun usai revolusi sosial itu, Pak Junus kembali dirolling ke Lageuen. Tugasnya triple function. Pemulihan semangat hidup warga dan anak didik yang sempat traumatis dengan peristiwa berdarah G.30 PKI sekaligus guru sekolah, guru mengaji/khatib.

Ketika itu, Junus menjadi kepala sekolah merangkap sebagai guru kelas dibantu isterinya dan satu guru lelaki M.Jusuf Lhok Buya. Untuk guru bantu dipulangkan Mariana bin Teuku Puteh  putri lokal tamatan Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) Banda Aceh.

Menurut T. Safari dan Tgk Karya kedua tokoh Lageuen pada penulis, Jumat 5 Maret 2021. Bagi warga masyarakat Lageuen, Pak Junus itu tokoh idola yang menjadi panutan kami. Kami tidak jadi begini tanpa gemblengan edukasi mental, religis dan spiritual, tanpa  beliau, kata mereka, sebagaima diakui Yah Dang dan Tgk. Raman sendiri.

Sepekan menjelang ajal menjemputnya, T. Safari bin Teuku Puteh sempat bertandang ke kediamannya di Keutapang, Calang. Dalam suasana berkelakar, Safari sempat bernostalgia dengan mantan gurunya yang sudah renta di perbaringan itu.

“Kamoe awak lageuen nyoe uroe jeh gothat meutakot keu droenneuh, Pak Unoh lagee meutakot keu malaikat maot”(Kami orang lageuen dulu sangat takut sekali sama anda pak Junus, sama takutnya dengan malaikat pencabut nyawa), tutur T. Safari menyampaikan kesan menakjubkan.

Bagaimana tak takut? Kata kedua tokoh ini sebagaimana diutarakan Alwi alias Yah wi. Beliau dan isterinya guru kami. Di kelas pada pagi hari beliau gurunya, malamnya beliau kembali menjadi ustadz kami lagi. Dalam shalat berjamaah beliau juga imam kami. Kami betul-betul tidak bisa berkelit sedikit pun dari ajaran dan pantauan beliau keseharian.

Hanya di luar jadwal itu betul-betul kami merasa “merdeka.” Begitu pun saat sedang berperilaku aneh-aneh di luaran misalnya mandi di laut, main domino atau main terjun ke sungai dari atas jembatan, kami pasti lari terbirit-birit atau bersembunyi jika kelihatan pak Junus sedang melintas.

Begitu kami dewasa, baru merasakan betapa penting sebuah gemblengan edukasi itu. Semua menjadi way of life seumur masa di dunia ini. Mereka menceritakan kadang kala kebandelan masa anak-anak kena  cambuk dengan rotan atau kena cubit di perutnya. Walau masa itu kita marah dalam hati, tapi sangat berguna masa kekinian. Jika tidak, entah jadi apa kami ini? tuturnya. Semoga seluruh amal Ibadahnya diterima Allah swt dan jika ada dosanya supaya digugurkan seluruhnya oleh Allah SWT. AMIN.

Tidak hanya Pak Junus yang menjadi kesan di tahun 1960-an, tapi bagi generasi 30-40-an, juga terkesan dengan Angku Ja’cob. Angku (guru) Ja’cob ini adalah ayah kandung daripada Junus Jc. Guru lintas zaman penjajahan ini mengajar pada SR lageuen juga. Ja’cob meninggal hari Jumat dalam perjalanan pulang dari Lageuen-Calang dalam posisi duduk bersandar pada batang kuda-kuda di pinggir jalan. Persisnya di dekat jembatan Raneui. Di tempat itu sepedanya bertengger. Dia telah tiada. Kepergian ayah kandungnya diduga saat istirahat selepas lelah hilir mudik-mudik Kageuen-Calang dengan jarak tempuh18 kilometer.

Junus Kecil Lamno

Lain lagi cerita sosok Pak Junus bagi warga dan tokoh Lamno. Junus adalah salah seorang murid SR Lamno yang rajin dan pandai di kelasnya. Sekolahnya hingga kelas 4 di situ langsung pindah ke kampung Jawa,  Calang, cerita rekan seangkatannya Junus Sufi, 86, warga Pantee Keutapang, Lamno.

Semasa muda, Junus ini pernah menjadi guru bakti di Lamo juga. Tahun 1971 kembali jadi Kepala SDN No 2 lamno lagi. Karirnya naik menjadi Penilik Sekolah(PS) Jaya dan Sampoiniet. Bahkan terakhir masa tugasnya Junus Jc ini dipercayakan sebagai Kepala Kantor Pendidikan Kebudayaan(Kandep.P & K) Kecamatan Jaya. Ungkap mantan ps Kebudayaan ini.

Selama di Lamno, Junus ikut merintis pendirian SMP Swasta yang bangkunya terbuat dari batang pinang, sebut Sekda Aceh Jaya Mustafa, Spd. “Saya sempat menikmati bangku batang pinang itu” tutur Mustafa bernostalgia di ruang tunggu Bupati Aceh Jaya kepada penulis.

Para Tokoh Masyarakat ketika itu mempercayakan Pak Junus sebagai Direktur SMP Swasta dan tenaga pengajar termasuk eumpienya Junus Sufi. Eumpie dalam bahasa Aceh adalah sebutan sesama individu yang namanya sama/seragam. Bukan memanggil nama asli. Begitu etikanya dalam pergaulan orang Aceh.

Sesungguhnya Pak Junus itu sudah menjadi bagian daripada keluarga besar Lamno, sebut Mustafa. Semenjak SR hingga memasuki pensiun 1991 di Lamno. Teman seangkatannya banyak di  Lamno. Pada awal kemerdekaan RI Junus kecil ini disapa oleh temannya dengan sebutan  Buyong.

Ayah kandungnya memang berdarah teuku (ampon) dari Air Beurudang, Tapaktuan, Aceh Selatan. Ibunya berasal dari Barus, Tapanuli Tengah. Barus itu dulu masuk wilayah Aceh, tandas Junus Sufi mantan teman sekelasnya. Sejak dari Ayah kandungnya Ja’cub, tidak pernah menggunakan gelar bangsawan itu.

Ayah angkatnya Mantri Sabi di Sango. Dia sebelum berstatus yatim sudah dibesarkan oleh dua ibu angkat yang di Padang, Lageuen dan di Sango, Lamno.

Ketika itu ada anggapan jika lahir seorang putra tunggal di antara lima bersaudara perempuan yang lama dinantikan bisa tidak berumur panjang. Jika tidak diasuh orang lain. Ayahnya mengajar di Lageuen. Teman akrabnya A.Sabi, seorang mantri kesehatan. Angku Ja’cob sepakat menyerahkan putra tunggal dan si mata wayang itu kepada Mantri Sabi ini.

Penulis menyaksikan sendiri betapa baiknya budi luhur seorang Junus. Mamak angkat tertua dan mamak angkat termuda yang bercerai hidup dan cerai mati dari ayah angkatnya benar-benar diurus dengan tulus ikhlas dan disantuninya hingga akhir hayatnya.

Junus mempunyai tiga kakak, Kamariah, Khatijah, Nurhasanah dan seorang adiknya Syamsiah. Semua mereka lebih dulu menghadap sang khaliq.

Tokoh Pendidik tanpa jasa ini pada pertengahan tahun 60-an sempat menyambung sekolah pendidikan lanjutan pada jenjang SGA (Sekolah Guru Atas) sambil bekerja. Masih seputar dunia pendidikan yang digelutinya, sebelum dipindahkan ke Lageuen, kedua kalinya, Dia termasuk salah seorang perintis pendirian SMP Negeri Calang, sekaligus menjadi tenaga didiknya.

Junus yang tergolong taat dan disiplin beribadah ini ketika bertugas di Calang, diangkat menjadi PS membawahi Kecamatan Setia Bhakti, Krueng Sabe dan Teunom. Untuk menunjang tugas diberikan fasilitas sepeda motor Suzuki plat merah BL.2745 A. Tugas semasa itu benar-benar sepanjang garis pantai Aceh Jaya, 145 kilometer.

Padahal ketika itu beliau baru saja melakukan akad kredit sepeda motor Yamaha L-2 G BL 1141 E milik pribadinya.

Kenderaan pribadinya itu diberikan untuk menunjang penulis dalam menempuh studinya di Fakultas Ekonomi Unsyiah dan belajar kemandirian melalui keterampilan photograger alias Mat Kodak.

Berkat penunjang ini pula,  penulis pun bisa belajar bisnis surat kabar/majalah kecil-kecilan serta praktik kurir untuk perpanjangan STNK, pajak kenderaan bermotor dan pembuatan SIM untuk warga eks kewedanaan Calang.

Dalam rangka pemekaran Aceh Jaya setelah purna tugas,  Muhammad Junus Jc ini banyak membantu dari segi sisi sejarah dan asal-usul nama Kota Calang. (Redaksi)

 

REKOMENDASI