Nasib Penjualan mobil – mobilan di Tengah Pandemi

  • Whatsapp
Junaidi saat membersihkan debu di mobil duplikat “Simpati Star” hasil karyanya (Foto/Zahlul Akbar)

Calang | republikaceh.net – Tangannya tak henti – henti memegang kain berwarna putih kombinasi kotak – kotak biru berukuran tiga puluh centimeter kali empat puluh centimeter. Dengan kain itu, Dia membersihkan debu di mobil hasil karyanya. Sesekali kain itu disematkan ke pundak, sembari matanya memerhatikan jenis mobil duplikat lain yang terpajang rapi.

Junaidi, 46, telah memulai usaha memproduksikan mobil miniatur berbahan kayu tersebut sejak tahun 2014. Tempat usahanya beralamat di Gampon (Desa) Baro, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya, begitu sempit. Kois yang di bangun pasca terjadinya gelombang tsunami itu hanya berukurang empat meter x empat meter, pas berada di samping kali sebelah barat. Luas halaman pun hampir sama dengan luas kiosnya berdampingan langsung dengan jalan nasional lintas Calang – Melaboh sebelah utara.

BACA JUGA

Junaidi memanfaatkan teras rumahnya sebagai tempat, baik itu proses pembuatan hingga penjualan mobil miniaturnya. Senin siang (26/7/2021) dengan mengenakkan baju berkerah berwana cokelat yang kian lucut dan celana training berwarna hijau, bawaan Junaidi begitu sederhana.

Keramahannya menyapa dengan tutur lembut kepada siapa pun yang berhadir ketempatnya, baik itu pembeli atau mereka hanya sekedar bertanya seputar karyanya. Dia seakan tidak pernah lelah, bahkan mengeluhkan jika pada akhirnya pembeli tidak jadi membeli mobilnya. Tetap di balas dengan sebuah senyum manis sebagai tanda keramahan.

“Sejak kecil saya sudah suka membuat mobil-mobilan ini, lalu akhirnya menjadi hobi. Hasil penjualan ini cukup untuk menyekolahkan anak – anak” ujar Junaidi kepada wartawan di sela istirahat usai melayani pembeli.

Lalu, lanjutnya, mencoba menjadi hobi ini sebagai pendapatan dan kini penjualannya sudah ke seluruh Aceh. Pembelinya kebanyakan penumpang L 300, rata – rata pelintas.

“Kadang – kadang ada juga mereka dari luar Aceh. Dua unit mobil simpati star sudah di beli sama orang Jakarta dan alhamdulillah, hasil penjualan ini cukup untuk kebutuhan keluarga ” tandasnya dengan bahasa indonesia yang terselip logat Bahasa Aceh.

Ayah dua anak tersebut kini memperkerjakan seorang pemuda asal Gampong setempat. Kegelisahannya begitu terlihat, saat wartawan menanyakan apakah kondisi Pandemi COVID-19 berimbas terhadap pendapatan usahanya.

“Pandemi ini begitu terasa bagi saya. Mobil saya kurang laku, para pembeli pun menurun dan yang pastinya pendapatan saya juga ikut berkurang” ujar junaidi

Murni Y, Istri Junaidi menyiapkan gorengan untuk di jual kepada pembeli, (Foto/Zahlul Akbar)

Kondisi ini tidak menyurutkan junaidi dalam mengais rezeki. Sang istrinya, Murni Y, 40, memilih untuk berjualan gorengan untuk menafkahi buah hatinya.

Berjarak kisaran 200 meter dari tempat Junaidi, terlihat pohon rumbia tumbuh berjajaran. Pondok – pondok tempat dijualnya gorengan pun berdiri rapi di kanan dan kiri badan jalan lintas Calang – Melaboh.

“Diantara penjual gorengan itu, ada istri saya dan Alhamdulillah, Cukup membantu untuk membeli kebutuhan pokok selama pandemi ini” jelas Junaidi

Para ibu paruh baya itu pun terlihat sibuk dalam mengupas pisang untuk di goreng dan ada juga yang sedang melayani pembeli.

Seuntai harapan Junaidi kelak, berharap dapat memperbesarkan usahanya tersebut dan bisa menampung sejumlah karyawan, terutama para pemuda desanya yang belum memiliki pekerjaan.

“Saya sangat berkeinginan, di suatu saat nanti dapat memperbesar usaha ini. Sehingga para pemuda di desa yang memiliki skil sudah dapat bekerja bersama saya” pungkasnya. (Zahlul Akbar)

REKOMENDASI