RUAK dan Reusam Institue Bersama Enam Himpunan Mahasiswa Bedah “Film BaraDwipa”

  • Whatsapp
Mahasiswa nontot bareng (nobar) dan diskusi Film Dokumenter “BaraDwipa” yang diproduksi oleh WatchDoc yang berlangsung di Laboratorium Optik Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar Raniry, pada Rabu (12/01/2022) (Foto/Ist)

Banda Aceh | republikaceh.net – Enam Himpunan Mahasiswa pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh terdiri dari HMP-BK, HMPS PFS, HMPS MPI, HMP PKM, HMPS PGMI dan HIMMAPTIKA berkolaborasi bersama RUAK dan Reusam Institute menggelar nontot bareng (nobar) dan diskusi Film Dokumenter “BaraDwipa” yang diproduksi oleh WatchDoc yang berlangsung di Laboratorium Optik Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar Raniry, pada Rabu (12/01/2022)

Koordinator acara, Hafiz Rizki mengatakan, agenda ini berorientasi pada optimalisasi kepekaan para mahasiswa dalam mengawal persoalan lingkungan hidup dan terlibat dalam ragam aksi pencegahan kerusakan lingkungan.

“Delapan lembaga yang tergabung dalam forum nobar dan diskusi berikut dengan kajian aksi BaraDwipa ini menjadikan mahasiswa sebagai target utama dalam mengakomodir persoalan lingkungan dan sebagai pewaris alam yang harus memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan mereka,” ujar Hafiz

Menurutnya, para Mahasiswa tidak boleh mengabaikan perihal kerusakan lingkungan, terkhusus dampak yang timbul dari perusahaan batubara. Sebab, kerusakan alam saat ini akan berdampak besar dan berkelanjutan bagi generasi selanjutnya.

Hafiz menambahkan, BaraDwipa merupakan salah satu film dokumenter yang membedah kasus persoalan lingkungan yang tidak banyak dipublikasi media. Dimana dalam pengoperasiannya, pemerintah hanya menilai besaran investasi yang dihasilkan. Namun, mengabaikan terhadap dampak buruk yang lebih banyak dirasakan.

“Bayangkan polusi dari perusahaan batu bara yang telah beroperasi bertahun-tahun mengancam kesehatan warga setempat terkhusus gangguan pernafasan bagi anak-anak. Sehingga menyebabkan warga setempat yang telah tinggal bertahun-tahun terpaksa harus berpindah ke lokasi lain dengan minimnya kompensasi yang diberikan oleh perusahaan,” Tutup Hafiz.

Kegiatan Nobar dan Diskusi ini dihadiri oleh dua pemantik diskusi, yakni Iping Rahmat Saputra, Dosen Resolusi Konflik Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Musrafiyan, Koordinator RUAK dan Founder Reusam Institute yang juga ikut berbagi pengalaman soal advokasi persoalan tambang dan isu kerusakan lingkungan di Aceh.

Melalui nobar dan diskusi ini diharapkan dapat melahirkan pemikiran-pemikiran kritis, kesamaan perspektif dan pergerakan kolektif secara berkesinambungan sebagai upaya dan aksi menyelamatkan lingkungan hidup dari ancaman perusahaan Batubara dan beralih pada energi bersih terbarukan. (***)

REKOMENDASI